Menulis Itu Tidak Mudah Tetapi “Mungkin”

11 Sep 2017 | Dilihat : 7 kali

Melihat fenomena booming-nya novel Filosofi Kopi karya Dewi Dee Lestari serta rutinitas pekerjaan pegawai KPK yang terkadang sulit untuk mengembangkan diri, Biro Humas mengadakan Komunikasi Internal sekaligus Bedah Buku Perpustakaan dengan tema “Menulis sebagai Terapi dalam Buku Filosofi Kopi” bersama Dewi Dee Lestari yang ditujukan kepada seluruh pegawai KPK di Auditorium KPK Lantai 1 Gedung C-1 pada Rabu, 9 November 2016.

Nama Dewi Lestari tentu tidak asing bagi kebanyakan pegawai KPK, Dewi Lestari yang bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong atau akrab dipanggil Dee adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia. Dee pertama kali dikenal masyarakat sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi (RSD). Dee Lestari menjadi penulis terkenal sejak novel pertamanya yang sensasional, Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis pada 2001. Kemudian Dee Lestari melanjutkan seri Supernova hingga Supernova 6 : Inteligensi Embun Pagi yang dirilis pada 26 Februari 2016 lalu.

Tepat pukul 10.30 WIB di Auditorium, moderator Budi Prasetyo membuka acara dengan meminta para penonton untuk menyampaikan testimoni maupun komentar mengenai makna kopi bagi pribadi masing-masing. Testimoni pertama disampaikan oleh Chandra Sulistio Reksoprodjo, “ketika menyeruput kopi selalu membawa ingatan akan kebesaran Indonesia. Karena awal kopi itu dulu dikenal Java, tidak dikenal kopi, yang kemudian dibawa oleh Belanda ke Eropa sehingga Java tersebut dikenal dengan Kopi. Makanya ada grup musik Java Jive yang selalu mengingatkan kebesaran Indonesia”. Testimoni tersebut disambut riuh dan tepuk tangan oleh para peserta, kemudian dilanjutkan dengan beberapa testimoni dari peserta lainnya.

Setelah penyampaian testimoni dari beberapa peserta, moderator langsung mengundang Dee Lestari untuk menuju ke depan dan memulai talkshow. Dee Lestari pun memulai dengan penjelasan makna “Filosofi Kopi”. “Filosofi Kopi sebenarnya sudah dibuat sejak tahun 1996 namun baru dapat diterbitkan pada 2006. Filosofi kopi merupakan perjalanan yang cukup panjang dalam karya tulisan saya. Sudah 20 tahun filosofi kopi tersebut dan bagi saya merupakan keajaiban sehingga sampai saat ini masih bisa berbagi mengenai filosofi kopi tersebut”, ujar Dee Lestari.

Kecintaan terhadap kopi merupakan motivasi Dee Lestari dalam menulis filosofi kopi. “Bagi saya kopi merupakan konotasi yang menyenangan”, ungkap Dee Lestari. “Saya diperkenalkan kopi secara perlahan sejak kecil oleh ayah saya”. Kopi memiliki konotasi yang begitu friendly, hangat, ramah seperti hampir semua masalah dapat diselesaikan. Banyak sekali konotasi positif terkait kopi.

Mengenai motivasi menulis, Dee Lestari menjelaskan bahwa keinginan menulis dalam diri sudah ada sejak kecil walaupun ternyata dunia tarik suara yang lebih dahulu muncul dan membuat Dee Lestari terkenal. Dee membagikan pengalaman bahwa filosofi menulis seperti melatih otot yang tentu tidak instan. Mendapatkan otot yang besar sama halnya dengan menulis. “Banyak sekali tips dan trik untuk dapat menulis, tapi satu hal yang penting adalah menulis itu kita sama dengan melatih otot, seperti Ade Rai yang dimulai dengan latihan perlahan-lahan. Begitu juga menulis, kapan sebaiknya menulis adalah sedini mungkin. Jangan remehkan jurnal maupun status Facebook dan Twitter”, kata Dee Lestari.

Menulis merupakan pelajaran yang semakin menantang dari waktu ke waktu. Jika kita sudah tertarik dengan menulis maka kabar “baik”-nya adalah kita akan selalu tertantang untuk menulis. Bahkan sampai hari ini pun Dee Lestari masih tertantang untuk belajar. Namun kabar “buruk”-nya ketika kita sudah terjun dalam dunia tulis menulis, kita akan selalu termotivasi untuk menulis seumur hidup kita. Karena menulis adalah lifetime acquired skill, sesuatu yang akan selalu menarik minat kita dalam waktu yang tidak terbatas.

Moderator kemudian bertanya mengenai penilaian Dee Lestari sendiri tentang buku Filosofi Kopi. Dee Lestari mengatakan pertama Filosofi Kopi membuat dia berpikir agak aneh, menyatukan filsosofi dan kopi ketika masa 1996 tersebut. Karya ini sempat disebutkan sebagai karya yang visioner pada zamannya, karena tulisan tersebut dibuat sebelum budaya minum kopi terkenal saat ini. Dee Lestari juga menempatkan beberapa kata yang cukup asing bagi orang awam dan Ia juga menyampaikan bahwa satu kata yang mewakilkan seorang Dee Lestari yaitu “Penasaran”. “Penasaran itulah yang membuat saya untuk terus dipacu dalam membuat karya-karya maupun tulisan hingga saat ini”, jelas Dee Lestari.

Selain “Penasaran” Dee Lestari juga menyampaikan kata “Senja” yang juga dapat mewakili dirinya. “Senja itu divisualisasi sebagai cantik, diucap enak dan terasa adem, seakan ketika kita mengucapkan akan terasa nyess dalam dada”, jelas Dee. Hal tersebut mendapat sambutan dari penonton sehingga moderator pun menawarkan agar penonton dapat segera memiliki kata-kata yang mewakilkan diri masing-masing.

“Menulis itu merupakan terapi, yang memiliki efek paradotik yang bukan rahasia diberbagai ilmu. Bahwa menulis itu dapat menjadi katarsis dalam diri kita yang dimana kita menelusuri benang kusut dalam pikiran kita. Pada awal menulis tentu yang terbayang dalam diri kita adalah abstrak yang akan kita kumpulkan berupa remah-remah kemudian kita rangkai menjadi karya,” ujar Dee sembari menjawab pertanyaan moderator terkait manfaat menulis bagi Dee pribadi.

Dalam pertengahan acara, moderator membuka sesi tanya jawab untuk para peserta. Pertanyaan pertama yang cukup menarik yaitu mengenai teknik agar novel dan karakter tersebut terasa hidup dan pembaca bisa membayangkan hal tersebut. Dee menjelaskan bahwa keberhasilan seorang penulis adalah ketika membuat pembaca merasakan novel fiksi menjadi non-fiksi, sehingga penulis jika ingin menulis mengenai cerita bahagia maupun cerita lucu, penulis tersebut haruslah tertawa dan bahagia dalam pembuatannya, begitu juga sebaliknya. Berbagai referensi baik dari internet, jurnal, buku maupun status media sosial sangat penting kita pahami agar cerita yang akan kita buat harus jelas. Diperlukan untuk mengaktifkan seluruh panca indera kita dalam setiap tulisan. Berbagai riset juga perlu kita dalami dengan baik agar dapat memahami karakter yang akan ditulis dan suasana dalam tulisan tersebut.

Dalam mempertahankan motivasi menulis, Dee Lestari mengatakan kita harus memulai dari hal-hal kecil dan mempelajari berbagi media penulisan dimulai dari status media sosial, blog, cerpen yang memang akan butuh proses yang cukup panjang. “Kadang kala kita mengorbankan kualitas untuk mengejar waktu, ataupun mengorbankan waktu untuk mengejar kualitas, itu semua pilihan dalam diri kita,” kata Dee Lestari. “Dalam menulis adalah bagaimana kita untuk tetap grounded namun dengan mimpi yang cukup tinggi. Setiap media dapat digunakan untuk menulis, seperti menulis cerpen tentu berbeda dengan menulis novel. Apalagi menulis Twitter yang hanya dibatasi 140 karakter, dimana kita dituntut untuk menyampaikan keseluruhan pikiran kita dalam karakter terbatas tersebut. Itupun berlaku dalam penulisan blog dan jurnal. Seperti halnya pelari sprinter akan memiliki tubuh yang cukup berotot dan kering sedangkan pelari marathon memiliki tubuh yang tinggi dengan postur kering dan kurus, hal tersebut terbentuk karena latihan yang dilakukan pelari tersebut berbeda,” ujar Dee Lestari.

Menulis itu tidak mudah, tetapi menulis itu “mungkin” asalkan kita mempunyai kekuatan dan stamina yang cukup. Menulis itu bukan mission impossible, jadi cukup bulatkan tekad usahakan menjauh dari berbagai gangguan, termasuk menerima telepon, scrolling timeline, buka internet ataupun lainnya yang bersifat menyita waktu. Kadang ada yang nyaman menulis dengan ketenangan disudut ruangan, ada yang justru dikeramaian maupun keributan atau bahkan ditempat yang sangat kosong tanpa ada benda apapun. Coba cari minat tersebut dalam diri kita dan kerjakan segera. Menulis merupakan perjuangan menuju draft pertama, draft pertama merupakan awal dari pengolahan tulisan. “Biasanya draft pertamalah yang akan dikritik dan dikomentari oleh editor, saya pun mengalaminya ketika menyampaikan tulisan kepada editor”, tambah Dee Lestari.

Sebelum penutupan acara, Dee Lestari diminta oleh moderator untuk dapat mempersiapkan novel atau cerita dengan tema anti korupsi. Dee Lestari menyampaikan terdapat beberapa karakter yang menurut Dee dapat mewakilkan tema tersebut yaitu Detektif dan karakter Underdog. Dee Lestari menegaskan dalam menulis tetapkan deadline, targetkan jumlah kata dan tentu konsisten dalam target tersebut dan jangan lupa basic needs sebagai manusia harus terpenuhi yang mencakup kebutuhan jasmani karena lebih mudah berkomunikasi dengan seseorang yang basic needs-nya terpenuhi dibanding seseorang yang masih kekurangan basic needs. Be Realistic jangan sampai menulis itu membuat sengsara, karena level kreatif dapat terpenuhi jika basic needs kita terpenuhi. “Tidak ada pekerjaan sulit, yang ada hanya ada pekerjaan kecil tetapi dilakukan dengan setia”, ujar Dee Lestari sembari menutup Komunikasi Internal dan Bedah Buku Perpustakaan hari itu.